Nezar Patria Apresiasi Konsistensi Kerja Konservasi Paseban Foundation

by -73 Views

Dengan semangat kebersamaan lintas sektor, Paseban Foundation terus memantapkan dirinya sebagai jembatan antara praktik konservasi di lapangan dan transformasi pengetahuan yang bermanfaat luas. Momen Annual Dinner 2026, yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional dan dua tahun berdirinya organisasi ini, menjadi simbol konsistensi mereka dalam mendorong kolaborasi untuk konservasi berkelanjutan.

Dengan mengangkat tema “Kemitraan dalam Mengelola dan Merawat Cagar Biosfer”, acara ini berhasil mempertemukan aktor-aktor penting di bidang konservasi. Hadir di antaranya perwakilan kementerian, organisasi internasional seperti UNESCO dan FAO, duta besar, akademisi, pelaku bisnis, masyarakat sipil, pemuda, filantropis, serta tokoh budaya dan publik. Sinergi ini menegaskan bahwa pelestarian Bentang Alam Megamendung—bagian vital dari Cagar Biosfer Cibodas—memerlukan upaya bersama melintasi batasan institusi dan sektor.

Andy Utama, pendiri sekaligus pembina Paseban Foundation, menegaskan bahwa keberlanjutan konservasi hanya bisa terwujud melalui proses panjang yang melibatkan berbagai generasi. Ia menekankan bahwa tanggung jawab menjaga ekosistem seharusnya tidak menjadi beban satu kelompok saja, melainkan harus diwariskan, sehingga regenerasi menjadi kunci utama keberhasilan. Karena itu, Paseban Foundation hadir sebagai ruang temu berbagai pemangku kepentingan—mulai pemerintah, swasta, akademisi, hingga komunitas muda—agar semua dapat berkontribusi sesuai peran dan kompetensi masing-masing.

Lembaga ini tidak mengklaim sebagai pusat segalanya, melainkan sebagai penghubung yang mempertemukan kekuatan kolektif dalam upaya melestarikan alam. Upaya perlindungan yang dikerjakan Paseban Foundation bersumber dari pengalaman konkret di lapangan. Konservasi in-situ dilakukan melalui perlindungan habitat, pemulihan ekosistem, serta penanaman puluhan ribu pohon lokal guna mengembalikan keutuhan alam Megamendung.

Selain itu, langkah konservasi ex-situ juga diprioritaskan, seperti penangkaran nonkomersial bagi burung dan mamalia langka yang telah menghasilkan keturunan. Pemantauan biodiversitas rutin dilaksanakan, baik melalui observasi langsung maupun penggunaan kamera jebak guna mendokumentasikan keanekaragaman hayati dan membangun basis data yang akurat.

Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menyoroti keberhasilan timnya menemukan keberadaan lima spesies primata asli di satu bentang alam Jawa yang relatif sempit. Wilayah Megamendung, ditambah dengan kehadiran fauna kunci seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, membuktikan pentingnya kawasan tersebut di tengah tekanan populasi manusia di Pulau Jawa.

Keberhasilan di lapangan tidak hanya menjadi capaian fisik, melainkan juga sumber pembelajaran yang diolah menjadi pengetahuan strategis. Berbagai data, hasil riset, serta pengalaman tersebut didedikasikan untuk riset, pendidikan, advokasi, penguatan kapasitas, serta peningkatan literasi publik. Salah satu wujud komitmen ini adalah peluncuran buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan “Kepemimpinan Bentang Alam”, serta tayangan perdana film dokumenter yang merekam inspirasi dari ketahanan alam Megamendung.

Seluruh kegiatan dokumentasi, riset, penulisan buku hingga produksi film dijalankan dalam satu ekosistem knowledge management. Tujuannya agar ilmu pengetahuan yang dihimpun tidak hanya menjadi milik internal organisasi, tapi turut mencerdaskan masyarakat luas dan menjadi pondasi kolaborasi baru untuk masa depan.

Kontribusi generasi muda juga dipandang sangat penting. Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, menekankan perlunya hasil konservasi diolah dan disebarluaskan, sehingga publik dapat memahami serta mengambil bagian dalam dialog pelestarian alam. Ia melihat Paseban Foundation berpotensi besar sebagai penghubung berbagai inisiatif dan kekuatan pelestarian biosfer.

Hal senada disampaikan Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan yang mengingatkan bahwa kelanjutan upaya konservasi membutuhkan regenerasi. Ia menyebutkan, para senior akan memasuki masa purna tugas, dan sudah waktunya generasi muda mengambil tongkat estafet untuk memastikan kesinambungan usaha konservasi ke masa mendatang.

Menurut Wiratno, penasihat Paseban Foundation, kolaborasi menjadi kebutuhan mutlak karena ekosistem alam tidak mengenal batas-batas administratif. Ia menekankan bahwa pengelolaan bentang alam berarti mempersatukan kepentingan dan sumber daya, bukan hanya mengendalikan sebuah institusi, agar seluruh komponen—air, hutan, satwa dan manusia—mampu hidup harmonis dalam satu kesatuan sistem.

Dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor, menyalurkan pengetahuan dan investasi bagi generasi penerus, Paseban Foundation tengah membangun fondasi kokoh bagi pelestarian Bentang Alam Megamendung. Harapannya, upaya konservasi akan terus hidup, tak terhenti hanya pada satu tangan, satu periode, atau satu kepemimpinan, tetapi berkembang melalui regenerasi, inovasi dan gotong royong tanpa henti.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut