Perang AS-Iran: Target Baru Muncul, Dunia Berpotensi Lumpuh

by -34 Views

Amerika Serikat dan Iran Tetap Berperang, Kondisi Semakin Memanas

Jakarta, CNBC Indonesia – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki babak yang lebih berbahaya. Peristiwa terbaru menunjukkan bahwa kedua negara mulai menyerang infrastruktur penting, memicu kekhawatiran perang meluas ke fasilitas sipil dan energi yang menopang kawasan Teluk.

Perang Meluas ke Infrastruktur Penting

Militer AS pada Jumat (17/7/2026) melancarkan serangan terhadap sejumlah jembatan di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di Kuwait. Di saat yang sama, situasi di laut juga semakin memanas dengan kapal tanker menjadi sasaran serangan dan jalur pelayaran energi global terancam.

Di kawasan Selat Hormuz, tempat konflik telah memutus pasokan energi dari Teluk, Marinir AS menaiki sebuah kapal tanker di dekat selat tersebut. Pada saat yang sama, dua kapal tanker minyak dilaporkan meledak dan terbakar setelah melintasi jalur yang dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz.

Respons dan Ancaman Meningkat

Situasi semakin memanas ketika Iran mengumumkan serangan terhadap sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Iran juga mengklaim menyerang sebuah kapal militer AS di bagian utara Samudra Hindia. Iran menyatakan mereka menyerang gudang penyimpanan drone milik AS di Bahrain serta menghancurkan pusat kecerdasan buatan utama Bahrain menggunakan rudal balistik dan drone.

Kantor berita pemerintah IRNA melaporkan bahwa Angkatan Laut Iran menembakkan rudal pantai-ke-laut ke arah kapal AS di Samudra Hindia bagian utara. Parahnya, serangan Iran tidak hanya terbatas di daerah Teluk, namun juga mencakup Laut Merah, yang sangat vital sebagai jalur pelayaran minyak.

Trump sebelumnya telah mengancam akan meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran. Hal ini menjadi ancaman serius menyusul peningkatan intensitas pertempuran di wilayah tersebut.

Kedua negara terus menguji batas eskalasi sejak gencatan senjata yang mereka capai runtuh pekan lalu. Kondisi ini telah memunculkan kekhawatiran akan potensi pecahnya perang berskala penuh di kawasan tersebut.

Pasar energi langsung merespons perkembangan terbaru tersebut. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 3% pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.

Source link