Perang Iran dan Rudal Trump: Kehabisan Daya Pukul AS

by -65 Views

Stok Rudal AS Menipis di Tengah Ketegangan Dengan Iran

Jakarta, CNBC Indonesia – Persediaan rudal utama militer Amerika Serikat (AS) terus menyusut seiring memanasnya kembali konflik dengan Iran. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi kesiapan Washington menghadapi potensi perang lain, termasuk jika terjadi konflik dengan China maupun Korea Utara.

Analisis Terkini Menunjukkan Tingkat Pengurangan Persediaan Rudal

Menurut para analis, pada fase awal konflik yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury, militer AS menghabiskan ribuan rudal presisi jarak jauh serta rudal pertahanan udara untuk menghadapi serangan Iran. Michael O’Hanlon dari Brookings Institution menegaskan kondisi stok amunisi kini jauh dari ideal.

“Tidak diragukan lagi persediaan senjata lebih rendah dari yang kami inginkan,” katanya.

Proses Pengisian Kembali Persediaan Rudal

Meski gencatan senjata sempat memberikan ruang bagi Pentagon untuk menghemat persediaan, kemampuan mengisi kembali stok masih sangat terbatas. Analisis CSIS menunjukkan bahwa hingga pertempuran besar dengan Iran mereda pada April lalu, Pentagon telah menghabiskan sedikitnya setengah stok pencegat rudal balistik THAAD, hampir separuh rudal pertahanan udara Patriot, serta sekitar 30% rudal jelajah Tomahawk.

Peneliti senior American Enterprise Institute, Elaine McCusker, memperkirakan proses pemulihan persediaan amunisi akan berlangsung lama.

“Jangka waktu pengisian kembali amunisi sebagian besar akan diukur dalam hitungan tahun, sekitar dua hingga lima tahun untuk sebagian besar jenis persenjataan,” ujarnya.

AS juga berupaya mengurangi beban produksinya dengan memberikan lisensi kepada negara mitra, seperti Jerman dan Ukraina, untuk memproduksi rudal Patriot di dalam negeri.

Meski Pentagon menegaskan militer AS masih memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan seluruh operasi yang diperintahkan Presiden, para analis memperingatkan bahwa pengurasan stok rudal secara terus-menerus dapat mengikis daya tangkal Negeri Paman Sam dalam jangka panjang.

O’Hanlon menilai kemampuan pencegahan terhadap China maupun Korea Utara memang belum melemah saat ini, namun ia mengingatkan bahwa “pada titik tertentu” efektivitas deterrence bisa menurun jika persediaan senjata terus terkikis.

Source link