Krisis Iran: AS Terjebak di Perang dan Kekacauan Zig-zag

by -50 Views

Perjalanan Konflik AS-Iran: Dari Ancaman Perang hingga Upaya Diplomasi

Jakarta, CNBC Indonesia – Perubahan sikap Presiden Donald Trump terhadap konflik dengan Iran dalam hitungan hari memperlihatkan betapa rumitnya perang yang kini menyeret Amerika Serikat ke dalam kebuntuan strategis di Timur Tengah. Dari ancaman perang, operasi militer di Selat Hormuz, hingga kembali membuka ruang damai, arah kebijakan Washington berubah cepat seiring tekanan ekonomi dan politik yang terus membesar.

Akhir pekan lalu, Trump masih berbicara keras soal Iran dan menegaskan bahwa Teheran belum “membayar harga yang cukup besar”. Namun pada Selasa (5/5/2026), Gedung Putih meluncurkan “Project Freedom”, operasi yang disebut sebagai “gerakan kemanusiaan” untuk membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Teluk sekaligus melemahkan kendali Iran atas Selat Hormuz.

Perubahan Sikap Trump

Hanya beberapa jam kemudian, nada Trump berubah lagi. Pada Rabu dini hari, ia mengumumkan adanya kemajuan besar menuju kesepakatan damai. “Kemajuan besar telah dicapai menuju Kesepakatan Cepat dan Final,” kata Trump, sambil mengumumkan bahwa Project Freedom akan dihentikan sementara demi memberi kesempatan bagi negosiasi.

Mengutip analisis The Guardian, meski terlihat berubah-ubah, ketiga pendekatan Trump yang terdiri dari tekanan militer, operasi maritim, dan diplomasi, dinilai berangkat dari kenyataan yang sama, yakni rezim Iran tampaknya tidak akan runtuh ataupun menyerah pada hak pengayaan uranium hanya karena dibombardir.

Teheran telah membuktikan kemampuannya menutup Selat Hormuz, dan blokade total di Teluk justru ikut melukai ekonomi AS sendiri.

Perjuangan Diplomasi

Kondisi itu disebut membentuk semacam “kotak baja” yang menjebak pemerintahan Trump. Washington terus mencari jalan keluar yang tidak berujung pada “penghinaan” atau perang tanpa akhir.

Ancaman bombardemen lanjutan yang disampaikan Trump menunjukkan kekhawatiran bahwa diplomasi bisa kembali gagal. Laporan menyebut AS, Iran, dan mediator dari Pakistan semakin dekat pada kesepakatan berupa memorandum of understanding (MoU) satu halaman.

Dokumen itu akan menyatakan berakhirnya perang dan memulai periode negosiasi selama 30 hari untuk menyelesaikan sengketa terkait program nuklir Iran, sanksi AS, dan aset Iran yang dibekukan.

Sebagai bagian dari proses itu, kedua pihak akan secara bertahap mencabut blokade masing-masing di Selat Hormuz selama masa pembicaraan berlangsung.

Pengumuman Trump langsung menurunkan harga minyak dan mengangkat pasar saham global. Namun situasinya masih sangat rapuh.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memberi sinyal bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz mungkin saja dilakukan, tetapi belum memberikan jawaban tegas terhadap proposal tersebut. Teheran menegaskan bahwa blokade harus diakhiri terlebih dahulu sebelum pembicaraan lain dimulai.

Negosiasi diperkirakan akan sangat sulit. Sebelum perang, Iran menawarkan moratorium pengayaan uranium selama lima tahun, sedangkan AS menuntut 20 tahun. Proposal terbaru disebut mengarah pada kompromi sekitar 12 hingga 15 tahun.

Iran sebelumnya juga menawarkan opsi terkait stok uranium yang diperkaya tinggi, yang berpotensi digunakan untuk senjata nuklir, melalui pengenceran atau ekspor ke luar negeri. Proposal baru disebut lebih condong pada opsi ekspor, bahkan kemungkinan ke Amerika Serikat.

Iran juga akan menerima kembali inspeksi permanen dari badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency atau IAEA, demi memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan.

Sebagai imbalannya, miliaran dolar aset Iran yang dibekukan akan dicairkan secara bertahap dan sanksi AS akan dilonggarkan perlahan.

Source link