Merayakan Ramadhan: Doa, Rindu, dan Perpisahan

by -35 Views

Ramadhan datang dengan penuh kehangatan di langit senja yang perlahan meredup, menyambut hati yang sudah lama terabaikan. Suara adzan yang menggema membawa peluk dalam cahaya yang turun satu per satu, menenangkan jiwa yang haus akan ketenangan. Dalam diamnya perut yang kosong, terbuka pintu bagi jiwa untuk lebih merenungi arti kehidupan.

Setiap sujud yang diperpanjang merupakan ungkapan rindu yang tak terucap, membebaskan diri dari dosa-dosa yang menyelimuti, dan harapan untuk kembali kepada kebenaran. Saat malam tiba dengan sunyi yang hangat, doa-doapun melambung ke langit tanpa sekat, air mata pun turun tanpa suara, menjadi saksi akan kasih-Nya.

Ramadhan bukan hanya sekadar waktu singgah, tetapi cermin bagi jiwa yang lelah. Ia mengajak untuk kembali ke jalan-Nya, dengan hati yang lebih berserah. Namun kini, Ramadhan pun perlahan meninggalkan kita, tanpa pamitan seperti angin yang berlalu diam-diam, meninggalkan jejak di hati yang dirisaukan.

Meski langit masih sama, tapi terasa lebih sunyi tanpa sahur yang memberi semangat atau adzan maghrib yang diantikan dengan rindu. Apakah kita telah benar-benar mencintai Ramadhan? Bagaimana perasaan hati yang kian terbentur dengan realitas? Mungkin ini adalah perpisahan sementara, namun harap kita dapat dipertemukan kembali di lain waktu dengan hati yang lebih bersih.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H Mohon Maaf Lahir dan Batin kepada semua umat Islam. Semoga Ramadhan telah memberi banyak makna bagi jiwa yang telah melaluinya.

Source link