Harga smartphone mungkin belum akan bergerak lebih ramah dalam waktu dekat. Di balik label harga yang terus menanjak, ada persoalan yang jauh lebih mendasar: biaya komponen memori, terutama RAM dan storage, yang kini melonjak tajam dan mulai menekan seluruh lini ponsel, dari kelas murah sampai premium.
Kenaikan ini bukan sekadar angka di laporan industri. Saat biaya dua komponen inti tersebut naik, produsen mau tidak mau ikut menyesuaikan struktur harga. Akibatnya, konsumen berpotensi menghadapi ponsel baru yang lebih mahal, meski spesifikasi yang ditawarkan tak banyak berubah dibanding generasi sebelumnya.
RAM dan storage jadi pusat tekanan biaya
Laporan Counterpoint Research menunjukkan bahwa harga RAM mobile naik sekitar 50 persen. Di saat yang sama, NAND storage melesat lebih dari 90 persen secara quarter-on-quarter. Lonjakan sebesar itu membuat biaya produksi smartphone ikut terdorong naik dalam waktu singkat.
Dalam industri ponsel, RAM dan storage bukan sekadar pelengkap. Keduanya menentukan kelancaran penggunaan perangkat, kapasitas penyimpanan, hingga posisi sebuah produk di pasar. Ketika dua komponen ini mahal, tekanan biaya langsung terasa ke pabrikan, terutama pada model yang selama ini mengandalkan harga kompetitif untuk menarik pembeli.
Counterpoint juga menilai bahwa efek kenaikan ini kemungkinan akan lebih jelas terlihat pada harga jual ke konsumen pada 2026. Artinya, dampaknya bukan hanya sementara, melainkan bisa berlanjut ke siklus produk berikutnya jika harga komponen belum kembali stabil.
Segmen murah justru paling rentan
Yang menarik, tekanan harga tidak hanya menghantam ponsel kelas atas. Segmen entry-level justru ikut terjepit karena ruang manuver produsen di kelas ini jauh lebih sempit. Untuk perangkat dengan konfigurasi RAM 6GB LPDDR4X dan storage 128GB eMMC, porsi biaya komponen inti tersebut disebut sudah mencapai sekitar 43 persen dari total biaya pembuatan.
Angka itu menunjukkan betapa besar beban yang harus ditanggung produsen saat merakit ponsel murah. Dalam kondisi normal, segmen ini diposisikan sebagai pintu masuk bagi konsumen yang mencari harga terjangkau. Namun jika biaya RAM dan storage terus naik, mempertahankan harga rendah akan semakin sulit tanpa mengorbankan margin atau spesifikasi lain.
Di kelas menengah, dampaknya juga tidak bisa dianggap kecil. Smartphone dengan RAM 8GB LPDDR5X dan storage 256GB UFS 4.0 mengalami kenaikan biaya sekitar 15 persen pada RAM dan 11 persen pada storage. Untuk kategori ini, produsen biasanya berusaha menjaga keseimbangan antara performa dan harga. Tetapi ketika dua komponen utama ikut mengerek ongkos, pilihan yang tersedia menjadi lebih terbatas.
Ponsel premium pun ikut terseret
Meski segmen premium biasanya memiliki ruang keuntungan yang lebih lebar, bukan berarti kebal terhadap kenaikan biaya. Ponsel kelas atas dengan RAM 16GB LPDDR5X dan storage 512GB UFS 4.1 tetap terdampak oleh tren yang sama. Bedanya, produsen di segmen ini umumnya masih memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan harga tanpa langsung kehilangan seluruh pasar.
Namun fleksibilitas itu bukan tanpa batas. Jika biaya komponen terus naik, kenaikan harga di kelas premium bisa menjadi lebih agresif dibanding segmen lain. Dalam perhitungan yang beredar, smartphone murah berpotensi naik sekitar USD 30 pada kuartal berikutnya. Sementara itu, ponsel premium bisa melesat lebih jauh, dengan kenaikan sekitar USD 150 hingga USD 200.
Bagi konsumen, situasi ini berarti waktu pembelian menjadi semakin penting. Menunda pembelian terlalu lama bisa berujung pada harga yang lebih tinggi untuk spesifikasi yang sama. Di pasar yang sangat bergantung pada komponen memori, kenaikan harga RAM dan storage bukan lagi isu teknis semata, melainkan faktor yang langsung menentukan berapa besar uang yang harus dikeluarkan saat membeli smartphone baru.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





