Pakar Internasional Hadir di RS EMC Grha Kedoya untuk Kembangkan Layanan Molecular Imaging

by -74 Views

RS EMC Grha Kedoya tengah menempatkan diri lebih jauh di peta layanan diagnostik modern. Di tengah kebutuhan akan pemeriksaan yang semakin cepat dan presisi, rumah sakit ini memilih memperkuat molecular imaging sebagai salah satu fondasi layanan masa depan, bukan sekadar pelengkap teknologi. Langkah itu diwujudkan lewat kolaborasi dengan Siemens Healthineers Indonesia yang menghadirkan pakar kedokteran nuklir internasional ke Jakarta.

Program ini menjadi penanda bahwa pengembangan layanan kesehatan kini tidak lagi hanya bertumpu pada alat canggih, tetapi juga pada kesiapan tenaga medis untuk membaca, memahami, dan memanfaatkan data diagnostik secara lebih tajam. Dalam konteks itu, kehadiran PET/CT diposisikan sebagai bagian penting dari praktik klinis yang terus bergerak ke arah personalisasi dan ketepatan diagnosis.

Forum lintas disiplin untuk mempercepat pemahaman PET/CT

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, RS EMC Grha Kedoya menyambut Dr. Klaas Pieter Koopmans, dokter spesialis kedokteran nuklir dari UMCG, Belanda. Kehadirannya dirancang untuk membuka ruang dialog langsung antara dokter spesialis kedokteran nuklir, radiolog, onkolog, dan tenaga medis lain yang berkaitan dengan layanan diagnostik. Forum seperti ini menjadi penting karena pemanfaatan PET/CT tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga interpretasi klinis yang membutuhkan sudut pandang lintas bidang.

Selama dua hari, para peserta mengikuti sesi yang disusun cukup padat. Agenda meliputi diskusi kasus klinis, pembacaan hasil gambar PET/CT secara langsung, workshop, hingga seminar ilmiah. Pola kegiatan ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak berhenti pada pengenalan alat, melainkan mendorong pemahaman yang lebih praktis dan aplikatif di lapangan.

Berbagai penggunaan PET/CT ikut dibahas dalam forum itu, mulai dari onkologi, kardiologi, neurologi, penyakit infeksi, hingga inflamasi. Cakupan ini memperlihatkan bahwa molecular imaging semakin relevan untuk banyak cabang kedokteran, terutama ketika dokter membutuhkan gambaran yang lebih detail mengenai proses penyakit di tingkat molekuler.

Biograph Vision Quadra jadi penopang layanan baru

Di balik program tersebut, ada langkah besar yang sudah lebih dulu diambil RS EMC Grha Kedoya, yakni mengadopsi Biograph Vision Quadra PET/CT dari Siemens Healthineers. Sistem total-body PET/CT ini disebut sebagai yang tercanggih pertama di Asia, dengan sensitivitas tinggi dan kemampuan menangkap informasi molekuler secara simultan.

Keunggulan teknologi ini terletak pada kemampuannya melakukan pemindaian lebih cepat dengan akurasi diagnosis yang tinggi. Selain itu, sistem ini diklaim dapat memberikan dosis 50% lebih rendah dibandingkan PET/CT tradisional. Dalam praktik klinis, dua hal ini sama-sama penting: pasien mendapat pemeriksaan yang lebih efisien, sementara dokter memperoleh data yang lebih kaya untuk mendukung keputusan medis.

Teknologi seperti ini sangat relevan untuk deteksi penyakit lebih dini, penentuan stadium kanker yang lebih presisi, dan pemantauan respons terapi yang lebih efektif. Dengan kata lain, molecular imaging bukan hanya memperjelas gambar, tetapi juga membantu dokter melihat perkembangan penyakit dengan cara yang lebih terukur.

Langkah awal menuju jalur rujukan yang lebih kuat

Program kolaboratif ini juga memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar pertukaran pengetahuan. RS EMC Grha Kedoya berharap inisiatif tersebut dapat mempercepat adopsi klinis molecular imaging di Indonesia, sekaligus memperkuat jalur rujukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dengan tingkat ketelitian tinggi.

Direktur RS EMC Grha Kedoya, dr. Henry Andrean, menilai kehadiran Biograph Vision Quadra PET/CT sebagai langkah penting dalam pengembangan molecular imaging di Indonesia. Ia menekankan bahwa kolaborasi semacam ini diharapkan mampu mendorong layanan kesehatan nasional berkembang lebih baik dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Di tengah kebutuhan layanan kesehatan yang makin kompleks, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa rumah sakit tidak lagi cukup hanya memiliki alat yang mutakhir. Yang sama pentingnya adalah membangun ekosistem klinis yang siap memanfaatkannya secara optimal, mulai dari diskusi ilmiah, pembacaan hasil, hingga penerapan dalam jalur layanan pasien.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.