Perang As-Iran: Penurunan Harga Emas dan Minyak

by -232 Views

Pasar keuangan global memulai pekan dengan napas tertahan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memukul sentimen investor, bukan semata karena risiko geopolitik, melainkan karena satu ancaman yang jauh lebih konkret: gangguan pada jalur minyak dunia. Di tengah situasi seperti ini, perhatian pelaku pasar langsung bergeser ke pertanyaan yang paling sensitif, yakni apakah arus energi dari Timur Tengah masih bisa bergerak normal atau justru tersendat.

Dalam hitungan pasar, eskalasi konflik ini punya bobot berbeda dibanding gejolak di negara produsen minyak lain. Iran dinilai lebih berbahaya bukan hanya karena kapasitas produksinya, tetapi karena posisinya yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi distribusi minyak global. Di titik inilah kekhawatiran pasar menjadi lebih tajam: bukan sekadar soal berkurangnya produksi, tetapi soal kemungkinan tersendatnya pengiriman.

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Rentan

Florian Weidinger, Chief Investment Officer Santa Lucia Asset Management, menilai dampak konflik AS-Iran bisa jauh lebih besar dibanding gangguan energi di Venezuela. Menurut dia, perbedaan utamanya terletak pada karakter risikonya. Venezuela terutama memunculkan masalah di sisi pasokan, sedangkan Iran menyentuh jalur distribusi yang jauh lebih krusial bagi pasar global.

Data Kpler memperlihatkan betapa strategisnya Selat Hormuz. Sekitar 13 juta barel minyak mentah melintas setiap hari melalui jalur ini, atau sekitar 31% dari pasokan global. Angka itu menjelaskan mengapa setiap eskalasi di kawasan tersebut langsung memantik kepanikan di pasar energi. Ketika jalur ini terganggu, efeknya tidak berhenti pada satu negara, melainkan merambat ke berbagai pusat ekonomi dunia.

Kenneth Goh dari UOB Kay Hian Singapura menegaskan hal serupa. Ia menyebut Venezuela dan Iran sama-sama penting, tetapi jenis risikonya berbeda. Venezuela berkaitan dengan produksi, sementara Iran menyangkut hambatan distribusi. Bagi pasar, perbedaan itu sangat menentukan karena distribusi adalah tahap yang langsung menyentuh pergerakan minyak menuju konsumen akhir.

Emas dan Dolar AS Kembali Diburu

Ketegangan yang meningkat juga menghidupkan kembali pola lama di pasar: ketika geopolitik memburuk, investor cenderung mencari tempat berlindung. Emas dan dolar AS kembali menjadi tujuan utama karena keduanya dianggap lebih tahan terhadap gejolak jangka pendek. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, aset semacam ini biasanya dipilih untuk menjaga nilai portofolio dari penurunan yang lebih dalam.

Memori pasar terhadap konflik-konflik sebelumnya ikut memperkuat sikap hati-hati. Serangan Israel terhadap situs nuklir Iran menambah lapisan kekhawatiran baru, terutama karena investor belum bisa memastikan sejauh mana balasan Teheran akan memengaruhi stabilitas kawasan. Dalam kondisi seperti ini, reaksi pasar sering kali lebih cepat daripada perkembangan politik itu sendiri.

Alicia GarcĂ­a-Herrero dari Natixis memperkirakan sesi perdagangan pada hari Senin akan menjadi berat bagi bursa saham global. Ia memproyeksikan ekuitas dunia dapat terkoreksi 1% hingga 2%. Di sisi lain, harga minyak diperkirakan berpotensi naik 5% sampai 10% apabila kekhawatiran terhadap suplai terus menguat.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan turun 5 hingga 10 basis poin. Penurunan tersebut biasanya mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset aman, terutama ketika pasar mulai mengurangi ekspektasi risiko dan mencari perlindungan dari kemungkinan gejolak lanjutan.

Pasar Menanti Langkah Balasan Teheran

Meski suasana pasar sedang tegang, Alicia mengingatkan agar investor tidak bereaksi terlalu jauh sebelum melihat respons resmi Iran. Menurutnya, selama Selat Hormuz tetap terbuka, gejolak memang bisa tajam, tetapi belum tentu berubah menjadi krisis penuh yang melumpuhkan pasar energi dunia.

Di sinilah arah perhatian pasar benar-benar terkunci. Bukan pada kerasnya pernyataan politik, melainkan pada apakah kapal-kapal pengangkut minyak masih bisa melintas tanpa hambatan. Selama pertanyaan itu belum terjawab, harga aset berisiko kemungkinan tetap bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian yang tinggi.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.