Ngabuburit Inspiratif: Anak Korban Bencana di Aceh Tamiang

by -212 Views

ACEH TAMIANG — Di tengah Ramadan yang masih dibayangi ingatan atas banjir dan longsor, sekelompok anak di Kampung Lintang Atas, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, mendapat jeda yang berbeda dari hari-hari mereka sebelumnya. Bukan sekadar menunggu waktu berbuka, mereka dihadirkan pada sebuah ruang yang lebih hangat: ngabuburit yang dirancang untuk menguatkan kembali semangat anak-anak korban bencana.

Kegiatan ini digelar oleh Save the Children Indonesia dan menghadirkan pendakwah Hanan Attaki sebagai pengisi acara. Di hadapan anak-anak penyintas, ia menyampaikan kisah-kisah inspiratif dengan cara yang ringan, dekat, dan mudah dipahami. Suasana yang semula identik dengan duka pascabencana berubah menjadi momen yang lebih akrab, ketika anak-anak terlihat menyimak cerita dengan antusias.

Ngabuburit yang Tak Hanya Mengisi Waktu

Bagi anak-anak yang masih membawa dampak psikologis dari banjir dan longsor, kegiatan semacam ini punya arti yang lebih luas daripada sekadar hiburan sore. Mereka diajak masuk ke suasana yang memberi rasa aman, sekaligus membuka ruang untuk kembali tertawa dan mendengarkan cerita yang menenangkan.

Dalam konteks pascabencana, kehadiran kegiatan yang ramah anak menjadi penting. Anak-anak kerap menjadi kelompok yang paling rentan secara emosional ketika lingkungan tempat tinggal mereka terguncang. Karena itu, ngabuburit bersama ini bukan hanya pengisi waktu menjelang magrib, melainkan juga bagian dari upaya memulihkan semangat mereka sedikit demi sedikit.

Hanan Attaki membawakan kisah-kisah tokoh Islam dengan gaya bertutur yang tidak kaku. Cerita itu disampaikan tanpa jarak, sehingga mudah diterima anak-anak yang hadir. Mereka tampak menikmati setiap bagian cerita, seolah mendapat kesempatan untuk sejenak lepas dari situasi sulit yang mereka hadapi sejak bencana melanda.

Pesan dari Kisah Nabi Daud dan Saifuddin Qutuz

Dalam sesi tersebut, Hanan Attaki mengangkat cerita tentang Nabi Daud dan Saifuddin Qutuz. Dua kisah itu dipilih untuk menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi kuat: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang. Kondisi yang sulit tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk tumbuh, belajar, dan memiliki masa depan yang baik.

Pesan itu terasa relevan bagi anak-anak penyintas bencana di Aceh Tamiang. Mereka sedang berada pada fase yang membutuhkan dorongan moral, bukan hanya bantuan fisik. Melalui cerita-cerita tersebut, anak-anak diajak memahami bahwa ujian hidup bisa menjadi jalan untuk membentuk keteguhan, selama dijalani dengan keyakinan dan semangat.

Respons anak-anak yang tampak ceria selama acara berlangsung menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini mampu menjembatani pesan-pesan besar dengan dunia mereka yang masih penuh rasa ingin tahu. Di tengah suasana Ramadan, cerita inspiratif menjadi pengingat bahwa harapan tetap bisa tumbuh bahkan setelah keadaan terpuruk.

Ramadan dan Tanggung Jawab untuk Tetap Hadir

CEO Save the Children Indonesia, Desi Kurniani Ukar, menilai kegiatan seperti ini penting untuk menjaga semangat anak-anak sekaligus mengingatkan publik bahwa Aceh masih membutuhkan perhatian setelah bencana. Menurutnya, Ramadan adalah momentum yang tepat untuk memperkuat solidaritas dan menghadirkan dukungan nyata kepada mereka yang sedang berupaya memulihkan kehidupan.

Di Aceh Tamiang, acara ngabuburit ini memperlihatkan bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, ia hadir lewat pertemuan sederhana yang memberi ruang bagi anak-anak untuk merasa diperhatikan, didengar, dan dipulihkan perlahan. Dalam suasana seperti itu, sebuah cerita sebelum berbuka dapat berubah menjadi penguat yang berarti bagi mereka yang masih menjalani masa sulit.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.