Sons of Sparta: Skor Metacritic Terendah dalam Franchise
Nama God of War selama ini hampir selalu identik dengan standar tinggi. Setiap kali seri ini muncul, ekspektasi publik cenderung langsung naik, seolah-olah kualitasnya sudah punya patokan sendiri yang sulit disentuh game lain. Karena itu, kehadiran Sons of Sparta sempat terasa seperti momen besar: diumumkan dan dirilis mendadak pada State of Play Februari 2026, game ini datang membawa janji sudut pandang baru tentang asal-usul Kratos, lengkap dengan pendekatan metroidvania 2.5D yang berbeda dari seri utamanya.
Namun, sambutan awal yang penuh rasa penasaran itu tidak bertahan lama. Setelah dimainkan lebih luas dan mulai dinilai secara lebih serius, respons terhadap Sons of Sparta bergerak ke arah yang jauh lebih dingin. Menurut laporan GamesRadar+, Metacritic mencatat game ini hanya meraih skor 69 dari kritikus, angka yang langsung menempatkannya sebagai entri dengan nilai terendah sepanjang sejarah franchise God of War.
Skor yang Menempatkan Sons of Sparta di Dasar Franchise
Angka 69 bukan sekadar catatan kecil di papan penilaian. Dalam konteks waralaba sebesar God of War, skor itu terasa menonjol justru karena datang dari nama yang selama ini jarang tersandung penilaian rendah. Metacritic juga mencatat skor pengguna di angka 66, yang menunjukkan bahwa penerimaan dari pemain pun tidak jauh berbeda dari para kritikus. Kombinasi keduanya membuat posisi Sons of Sparta resmi berada di dasar daftar penilaian seri ini.
Untuk sebuah judul yang membawa merek besar dan sorotan tinggi sejak awal, hasil tersebut tentu cukup mengejutkan. Bukan hanya karena angka 69 tergolong rendah jika dibandingkan dengan standar internal franchise, tetapi juga karena game ini datang dengan konsep yang sebenarnya punya nilai jual kuat: mengupas latar belakang Kratos dari sisi yang belum banyak disentuh, lalu membungkusnya dalam format yang lebih ringkas dan eksperimental.
Jauh Tertinggal dari Seri Utama
Jika skor Sons of Sparta dibandingkan dengan judul-judul lain di dalam waralaba, jaraknya terasa makin lebar. God of War: Ascension masih berada di angka 80, sementara God of War rilisan 2018 dan Ragnarok sama-sama bertengger di skor 94. Perbedaan ini memperlihatkan betapa tajamnya kontras antara penerimaan terhadap seri utama dan respons terhadap spin-off terbaru tersebut.
Selama ini, nama God of War kerap dipakai sebagai tolok ukur untuk kualitas aksi, narasi, dan presentasi sinematik. Karena itu, ketika sebuah judul baru justru menjadi yang paling rendah nilainya, perhatian publik pun bergeser dari rasa penasaran ke pertanyaan yang lebih keras: apa yang membuat pendekatan baru ini tidak berhasil meyakinkan banyak penilai?
Premis Menarik, Hasil yang Tak Sepenuhnya Sejalan
Secara konsep, Sons of Sparta sebenarnya menawarkan sesuatu yang cukup menggoda. Kisah asal-usul Kratos selalu punya ruang untuk dieksplorasi, terlebih jika dibawa ke format 2.5D yang lebih fokus dan berbeda dari skala besar seri utamanya. Di atas kertas, perpaduan itu terdengar seperti peluang untuk memberi napas baru pada semesta God of War.
Meski begitu, data penilaian menunjukkan bahwa pendekatan tersebut belum cukup kuat untuk menyatukan kritik dan respons pemain. Ada jarak antara premis yang terlihat segar dan hasil akhir yang diterima publik. Pada titik ini, Sons of Sparta justru lebih banyak dibicarakan bukan karena keberhasilannya, melainkan karena posisinya yang kini tercatat sebagai skor terendah dalam franchise.
Pertanyaannya pun mengarah ke pengalaman masing-masing pemain: apakah Sons of Sparta benar-benar setara dengan angka Metacritic, atau justru masih menyimpan nilai yang belum tertangkap oleh penilaian awal? Dalam waralaba sebesar God of War, satu angka bisa mengubah cara sebuah game dikenang, dan untuk saat ini, angka 69 itu sudah terlanjur menjadi sorotan utama.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





