Bagi Betrand Peto, yang akrab disapa Onyo, Imlek tahun ini datang dengan nuansa yang jauh lebih pelan dibanding perayaan-perayaan sebelumnya. Di tengah identitas Imlek yang biasanya lekat dengan kebersamaan, tawa keluarga, dan angpao merah yang dinanti, ada satu tradisi yang justru sengaja tidak dijalankan. Keputusan itu bukan muncul begitu saja, melainkan berangkat dari permintaan Sarwendah agar momen Imlek kali ini diarahkan untuk mengenang sosok kakek mereka, yang dipanggil Yeyeh.
Onyo menyampaikan bahwa keluarga memilih untuk menahan kebiasaan membagikan angpao pada perayaan tahun ini. Bagi mereka, Imlek bukan semata soal suasana meriah, melainkan juga ruang untuk mengingat kembali orang yang punya tempat istimewa dalam keluarga. Dalam konteks itu, absennya tradisi angpao justru menjadi bagian dari cara keluarga memberi makna yang lebih personal pada perayaan tersebut.
Imlek yang Dibuat Lebih Hening
Perayaan yang biasanya identik dengan kegembiraan keluarga kini bergeser menjadi momen yang lebih reflektif. Onyo menuturkan bahwa fokus keluarga tahun ini bukan pada euforia, melainkan pada kenangan terhadap Yeyeh. Pilihan itu membuat Imlek terasa berbeda, karena perhatian tidak lagi tertuju pada hadiah atau rutinitas tahunan, tetapi pada rasa hormat dan ingatan yang ingin dijaga bersama.
Di banyak keluarga, Imlek memang sering dimaknai lewat simbol-simbol tradisi yang kuat. Namun bagi keluarga Onyo, tahun ini ada penekanan lain yang lebih penting: menghadirkan kembali sosok yang dirindukan. Dari situ terlihat bahwa sebuah perayaan bisa berubah arah tanpa kehilangan nilai utamanya, yakni kebersamaan dan ikatan keluarga.
Kenangan Angpao Besar yang Masih Diingat
Meski tahun ini tidak ada angpao, Onyo tetap menyimpan ingatan yang jelas tentang perayaan Imlek tahun lalu. Ia mengaku pernah menerima angpao dalam jumlah besar dari Ayah dan Yeyeh. Menariknya, uang itu tidak sekadar disimpan, tetapi dipakai untuk membeli ayam, sesuai dengan hobinya yang cukup unik.
Cerita itu memberi gambaran bahwa bagi Onyo, angpao bukan hanya soal nominal, melainkan juga tentang momen yang melekat dalam ingatan. Hadiah yang diterima pada saat Imlek membawa cerita tersendiri, dan dari situlah tradisi tahunan itu punya nilai emosional yang tidak kecil. Karena itu, ketika tahun ini angpao ditiadakan, yang berubah bukan hanya kebiasaan, tetapi juga suasana batin yang menyertai perayaan.
Tradisi yang Bergeser, Makna yang Tetap Dijaga
Keputusan keluarga untuk menahan pembagian angpao menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus dijalankan dengan pola yang sama setiap tahun. Ada saat ketika keluarga memilih memberi tempat lebih besar pada kenangan, terutama jika ada sosok yang ingin dikenang bersama. Dalam kasus ini, Imlek keluarga Betrand Peto menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan; ia berubah menjadi ruang untuk menghormati hubungan keluarga yang pernah ada dan tetap dirasakan hingga sekarang.
Dengan suasana seperti itu, Imlek tahun ini berjalan lebih tenang, tetapi tidak kehilangan makna. Justru dari perubahan kecil itulah terlihat bagaimana keluarga menempatkan prioritas pada rasa, ingatan, dan kebersamaan yang lebih dalam daripada sekadar tradisi lahiriah.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





