Inflasi AS Menurun, Bitcoin Rebound Sebelum Terjun

by -49 Views

Pasar kripto mengalami penguatan setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan dirilis. Bitcoin mencapai level USD70.000 akhir pekan lalu setelah pulih dari posisi USD65.000 pertengahan pekan. Tetapi, kenaikan ini belum stabil. Menurut data Senin, 16 Februari 2026, Bitcoin melemah 1,35 persen dalam 24 jam terakhir ke level USD68.850 atau sekitar Rp1,15 miliar.

Menurut Ajaib Panji Yudha, pakar keuangan, dominasi pasar Bitcoin saat ini sekitar 59 persen. Sementara total kapitalisasi pasar aset kripto global turun 1,95 persen menjadi USD2,33 triliun. Pemulihan harga Bitcoin didorong oleh data Inflasi Konsumen AS Januari 2026 yang menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,5 persen, lebih rendah dari Desember yang mencapai 2,7 persen.

Meskipun ada indikasi bahwa tekanan inflasi mereda, sentimen pasar masih dipengaruhi oleh Crypto Fear and Greed Index yang menunjukkan tingkat ketakutan ekstrem di kalangan pelaku pasar. Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati keputusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tambahan tarif impor darurat yang akan diumumkan pada 20 Februari 2026. Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi pasar global, termasuk aset kripto.

Selama periode 9-13 Februari 2026, ETF Spot Bitcoin mencatatkan net outflow sebesar USD360 juta. Produk BlackRock (IBIT) adalah yang paling banyak dijual dengan nilai USD235 juta, disusul oleh Fidelity Investments (FBTC) sebesar USD125 juta. Namun, produk Bitcoin Mini Trust milik Grayscale Investments mengalami aliran masuk sebesar USD110 juta. Secara keseluruhan, total nilai aset bersih ETF Bitcoin Spot saat ini mencapai USD87,04 miliar atau sekitar 6,33 persen dari total kapitalisasi pasar Bitcoin dengan total aliran masuk sebesar USD54,33 miliar.

Source link