Danantara Buka 600 Ribu Lapangan Kerja Baru di 2026: Sektornya

by -164 Views

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara sedang menempatkan hilirisasi sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi baru. Bukan hanya soal menaikkan nilai tambah komoditas, tetapi juga soal menciptakan pekerjaan dalam skala besar. Dari 20 proyek hilirisasi yang kini digarap, Danantara menyebut kebutuhan investasinya mencapai USD 26 miliar atau sekitar Rp 429 triliun.

Di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat industrialisasi, angka itu menjadi penting karena menunjukkan besarnya skala agenda yang sedang disusun. CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa seluruh rangkaian proyek tersebut ditargetkan mampu membuka sekitar 600 ribu lapangan kerja pada 2026. Target ini menegaskan bahwa hilirisasi tidak lagi diposisikan semata sebagai strategi memperkuat industri, melainkan juga sebagai jalur penciptaan kerja yang bisa dirasakan di banyak daerah.

Enam Proyek Sudah Masuk Tahap Groundbreaking

Dari total 20 proyek yang direncanakan, enam di antaranya sudah memulai groundbreaking pada bulan ini. Enam proyek awal tersebut mencakup hilirisasi bauksit, bioetanol, biorefinery, Integrated Poultry, garam, dan Mechanical Vapor Recompression atau MVR. Nilai gabungannya mencapai sekitar USD 7 miliar atau setara Rp 110 triliun.

Masuknya proyek-proyek itu ke tahap pembangunan fisik menjadi sinyal bahwa agenda yang sebelumnya banyak berada di atas kertas kini mulai bergerak ke fase implementasi. Bagi Danantara, percepatan ini penting agar manfaat ekonomi tidak tertahan terlalu lama. Ketika konstruksi dimulai, efeknya biasanya langsung terasa, mulai dari kebutuhan tenaga kerja, penggunaan jasa pendukung, hingga aktivitas ekonomi di sekitar lokasi proyek.

Selain itu, proyek yang sudah berjalan juga memberi gambaran awal tentang jenis industri yang sedang didorong. Hilirisasi bauksit dan bioetanol menunjukkan fokus pada pengolahan sumber daya alam agar menghasilkan produk bernilai lebih tinggi. Sementara biorefinery, Integrated Poultry, garam, dan MVR memperlihatkan bahwa portofolio hilirisasi tidak hanya bertumpu pada sektor tambang, tetapi juga merambah pangan dan industri pengolahan lainnya.

14 Proyek Lain Disiapkan Menyusul

Di luar enam proyek yang sudah groundbreaking, Danantara masih menyiapkan 14 proyek hilirisasi lain untuk segera menyusul. Daftarnya mencakup hilirisasi batubara menjadi Dimethyl Ether atau DME, produksi stainless steel slab dari nikel, pembuatan modul surya berbahan bauksit dan silika, pembangunan kilang minyak, hingga pengembangan produk turunan minyak sawit.

Susunan proyek tersebut memperlihatkan arah hilirisasi yang cukup lebar. Tidak hanya menyasar mineral dan energi, tetapi juga sektor perkebunan serta kebutuhan industri strategis lain. Dengan pola seperti ini, Danantara tampak ingin membangun rantai nilai yang lebih panjang di dalam negeri, sehingga bahan mentah tidak lagi berhenti pada tahap ekspor tanpa pengolahan lanjutan.

Jika seluruh proyek ini berjalan sesuai rencana, efeknya bukan hanya pada nilai investasi, tetapi juga pada struktur industri nasional. Pengolahan bahan baku di dalam negeri berpotensi membuka ruang bagi munculnya ekosistem usaha baru, dari pemasok bahan penunjang, jasa logistik, hingga kontraktor lokal yang terlibat selama masa pembangunan maupun operasional.

Proyek Tersebar di Banyak Daerah

Yang menarik, proyek-proyek tersebut tidak dipusatkan di satu wilayah saja. Danantara menyebarkannya ke sejumlah daerah seperti Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, hingga NTB. Pola penyebaran ini memberi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi yang dibidik tidak ingin terkonsentrasi di pusat-pusat kota besar.

Dengan lokasi yang tersebar, peluang terbentuknya pusat pertumbuhan baru juga terbuka. Daerah-daerah yang menjadi lokasi proyek berpotensi merasakan dampak berlapis, mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan permintaan jasa dan barang pendukung, sampai tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan di sekitar kawasan industri.

Dalam kerangka itu, target 600 ribu lapangan kerja pada 2026 bukan sekadar angka besar di atas kertas. Angka tersebut menjadi ukuran seberapa jauh hilirisasi bisa diterjemahkan menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat, terutama di wilayah yang selama ini belum banyak tersentuh investasi industri berskala besar.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.