Risiko Iritasi: Mengapa Efek Cerah Kulit Hanya Sementara
Baking soda kembali naik daun di media sosial sebagai “trik murah” untuk membuat kulit tampak lebih cerah, lebih rata, bahkan membantu meredakan jerawat. Cara pakainya pun terdengar amat sederhana: campur dengan air, lalu oleskan ke wajah. Namun di balik klaim yang terdengar praktis itu, para dokter kulit justru melihat persoalan yang lebih penting, yakni risiko iritasi yang sering diabaikan demi hasil instan.
Fenomena ini menunjukkan satu pola yang kerap berulang di dunia perawatan kulit: sesuatu yang terlihat bekerja cepat belum tentu aman untuk dipakai berulang. Kulit mungkin tampak lebih bersih sesaat, tetapi efek tersebut tidak otomatis berarti terjadi perbaikan yang benar-benar sehat. Justru, pada sebagian orang, hasil cepat semacam ini bisa menutupi masalah yang muncul setelahnya.
Efek cerah yang tampak, tetapi tidak bertahan lama
Pooja Sodha dari George Washington University menegaskan bahwa bukti ilmiah yang mendukung penggunaan baking soda untuk perawatan kulit masih sangat minim. Artinya, klaim yang beredar di media sosial belum ditopang data yang cukup kuat untuk disebut sebagai solusi yang aman maupun efektif. Jika ada perubahan pada kulit setelah pemakaian, hasil itu umumnya hanya berlangsung singkat.
Secara sederhana, baking soda bekerja di permukaan kulit dengan mengangkat minyak dan sel kulit mati. Karena efeknya terjadi di lapisan terluar, kulit bisa terlihat lebih bersih atau lebih cerah untuk sementara. Namun, perubahan seperti itu tidak menyentuh persoalan kulit yang lebih dalam, sehingga tidak bisa dianggap sebagai perawatan jangka panjang.
Di sinilah letak jebakannya. Banyak orang menilai bahan ini berhasil karena efek visualnya langsung terlihat. Padahal, kulit yang tampak lebih halus setelah dibersihkan belum tentu berarti kondisinya membaik. Dalam banyak kasus, hasil yang cepat justru membuat orang mengulangi pemakaian tanpa menyadari bahwa kulit sedang dipaksa beradaptasi dengan bahan yang tidak cocok.
Gangguan pH kulit dan risiko iritasi
Masalah utama baking soda ada pada sifatnya yang dapat mengganggu keseimbangan pH alami kulit. Lapisan pelindung kulit memiliki fungsi penting untuk menjaga kelembapan dan mencegah iritan masuk terlalu mudah. Saat keseimbangan ini terganggu, kulit menjadi lebih rentan terhadap berbagai keluhan, mulai dari rasa perih, kemerahan, sensasi sensitif, hingga munculnya jerawat.
Bagi kulit yang memang mudah reaktif, pemakaian baking soda langsung di wajah dapat menjadi pemicu masalah yang lebih besar. Alih-alih membantu, bahan ini justru berpotensi merusak lapisan pelindung kulit dan membuat kondisi wajah makin sulit dikendalikan. Dalam jangka panjang, penggunaan yang berulang tanpa pengawasan juga bisa memicu kerusakan yang tidak langsung terlihat.
Karena itu, para ahli menyarankan untuk tidak menganggap baking soda sebagai bahan perawatan kulit yang aman hanya karena berasal dari dapur. Asal-usulnya yang sederhana tidak otomatis membuatnya cocok untuk semua jenis kulit. Respons kulit setiap orang berbeda, dan apa yang tampak berhasil pada satu orang belum tentu aman bagi orang lain.
Jika kulit bereaksi, hentikan lebih dulu
Langkah paling bijak saat kulit mulai menunjukkan tanda-tanda negatif setelah mencoba baking soda adalah segera menghentikan pemakaian. Setelah itu, kulit sebaiknya diberi waktu untuk tenang dengan menghindari eksfoliasi maupun bahan aktif yang keras untuk sementara. Pendekatan yang lebih lembut biasanya lebih masuk akal ketika kulit sedang mengalami gangguan pada lapisan pelindungnya.
Jika iritasi tidak juga membaik setelah pemakaian dihentikan, pemeriksaan ke dokter kulit menjadi pilihan yang lebih aman. Penanganan yang tepat penting agar masalah tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Di tengah derasnya tren perawatan kulit di media sosial, kemampuan memilah antara tips populer dan saran yang benar-benar aman menjadi semakin penting.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





