Aktris Andi Soraya ikut memberi respons atas video yang diunggah Denada di Instagram, saat penyanyi itu mengakui Ressa Rossano sebagai anak kandungnya. Namun, di balik apresiasi terhadap keberanian Denada membuka masa lalu dan menyampaikan permintaan maaf kepada anak serta ibu dari almarhum Ressa, Andi justru menyoroti satu hal yang menurutnya tidak kalah penting: mengapa nama Bu Ratih tidak disebut, padahal sosok itulah yang selama ini merawat dan membesarkan Ressa.
Pertanyaan itu membuat perbincangan seputar pengakuan Denada bergeser dari sekadar momen emosional menjadi diskusi yang lebih tajam tentang siapa yang sejatinya paling terdampak dari pengungkapan tersebut. Bagi Andi Soraya, pengakuan di ruang publik belum sepenuhnya menjawab luka yang mungkin dirasakan pihak keluarga yang selama ini berada paling dekat dengan Ressa. Ia bahkan mengaku sedih melihat kondisi Bu Ratih dan mempertanyakan alasan Denada tidak menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada keluarga yang membesarkan Ressa.
Pertanyaan Andi Soraya soal sosok Bu Ratih
Dalam pandangan Andi, ada bagian dari cerita yang terasa belum selesai. Ia menilai, ketika seseorang mengakui hubungan darah dan meminta maaf di depan publik, maka kejelasan sikap kepada pihak yang membesarkan anak itu juga menjadi penting. Karena itu, absennya nama Bu Ratih dalam pengakuan Denada menjadi sorotan tersendiri. Bukan semata soal siapa yang disebut, melainkan soal penghargaan terhadap peran orang-orang yang selama ini ada di sisi Ressa.
Andi Soraya tampak tidak hanya berhenti pada isi video, tetapi juga pada dampak emosional yang mungkin muncul setelahnya. Menurutnya, pengakuan seperti itu seharusnya tidak berhenti sebagai pernyataan satu arah, melainkan membuka ruang untuk penjelasan yang lebih utuh. Dari situlah ia mempertanyakan mengapa permintaan maaf tidak diarahkan secara langsung kepada keluarga yang selama ini membesarkan Ressa, termasuk Bu Ratih yang disebutnya sebagai sosok penting dalam perjalanan hidup almarhum.
Emosi Denada dan dugaan yang ikut muncul
Selain menyoroti substansi pengakuan, Andi juga menyinggung ekspresi emosional Denada dalam video tersebut. Momen itu, menurutnya, justru memunculkan tanda tanya baru. Ia mempertanyakan apakah pengakuan tersebut lahir dari tekanan publik, atau ada kekhawatiran lain yang ikut mendorong munculnya video itu ke permukaan.
Salah satu dugaan yang ikut dilontarkan Andi adalah kemungkinan adanya kekhawatiran soal boikot dari dunia hiburan yang selama ini turut membesarkan nama Denada. Pertanyaan itu membuat respons Andi terasa lebih tajam, karena ia tidak hanya melihat isi pengakuan, tetapi juga konteks di balik kemunculannya. Di titik ini, pembicaraan tak lagi semata menyangkut keberanian berbicara, melainkan juga motif dan waktu pengungkapan yang dipilih.
Publik kembali menyoroti relasi keluarga dan tanggung jawab pengakuan
Reaksi Andi Soraya menambah lapisan baru dalam perbincangan publik mengenai hubungan Denada, Ressa, dan keluarga yang mengitari kisah tersebut. Di media sosial, pengakuan yang semula dimaksudkan sebagai permintaan maaf justru berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang kejujuran, tanggung jawab, dan siapa saja yang semestinya disebut ketika sebuah pengakuan pribadi disampaikan ke publik.
Kasus ini memperlihatkan bahwa satu pernyataan di media sosial bisa memantik pembacaan yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, keberanian Denada layak diapresiasi. Namun bagi Andi Soraya, ada pertanyaan yang belum terjawab, terutama terkait peran Bu Ratih dan keluarga yang membesarkan Ressa. Dari sana, perhatian publik pun bergeser bukan hanya pada pengakuan itu sendiri, melainkan pada bagian-bagian yang dianggap masih menyisakan ruang tanya.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





