Rio Dewanto Menyelami Budaya dan Misteri Kalimantan dalam Film Kuyank

by -232 Views

Rio Dewanto datang ke proyek Kuyank bukan hanya sebagai pemeran utama, tetapi juga sebagai saksi langsung dari pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: menjejak Kalimantan untuk pertama kali. Dari perjalanan itu, bukan set film yang paling membekas, melainkan pertemuannya dengan kehidupan masyarakat Banjar yang menurutnya masih menjaga adat dan tradisi dengan kuat di tengah keseharian modern.

Pengalaman tersebut memberi warna berbeda dalam proses produksi. Bagi Rio, Kalimantan bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang yang memperlihatkan bagaimana budaya lokal tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat. Ia mengaku paling terkesan saat melihat langsung bagaimana adat turun-temurun masih dijaga, meski mayoritas warga Banjar beragama Islam. Momen itu membuatnya menangkap sisi lain dari daerah yang selama ini belum pernah ia kenal secara langsung.

Banjar dan Jejak Tradisi yang Masih Terjaga

Di tengah arus produksi film yang kerap fokus pada teknis dan target syuting, Rio justru menemukan pengalaman yang lebih personal. Kehadiran di Banjar memberinya kesempatan untuk menyerap nuansa budaya yang tidak bisa didapat hanya dari riset di atas kertas. Ia melihat bagaimana tradisi tidak sekadar menjadi simbol, tetapi masih hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Hal inilah yang membuat pengalaman syuting Kuyank terasa lebih kaya. Rio tidak hanya menjalani perannya, tetapi juga berhadapan dengan lingkungan yang memberi perspektif baru tentang Kalimantan. Kesan itu menjadi salah satu bagian paling berharga selama proses produksi, karena menghadirkan pertemuan langsung dengan budaya yang hidup dan bertahan di tengah perubahan zaman.

Cerita Kelam di Balik Kuyang

Kuyank sendiri membawa penonton masuk ke dunia yang penuh ramalan, tekanan batin, dan pilihan berbahaya. Film ini mengisahkan Rusmiati, gadis kampung sederhana, dan Badri, lelaki terhormat, yang tetap memutuskan menikah meski ramalan menyebut rumah tangga mereka akan dipenuhi kesialan. Sejak awal, hubungan mereka sudah dibayangi pertanda buruk yang terus menghantui langkah keduanya.

Masalah kemudian memuncak ketika pasangan itu tak kunjung dikaruniai anak. Situasi tersebut membuat tekanan dari keluarga semakin besar, sementara harapan untuk hidup normal perlahan berubah menjadi kegelisahan. Dalam kondisi terdesak, Rusmiati memilih jalan yang berbahaya dengan mempelajari ajian Kuyang, ilmu hitam kuno yang dipercaya bisa memberi kecantikan dan keabadian demi mendapatkan keturunan. Keputusan itu justru membuka pintu pada rangkaian kejadian misterius yang mencekam.

Premis tersebut membuat Kuyank tidak hanya bergerak sebagai film horor, tetapi juga menyentuh sisi psikologis tokohnya. Ada ketakutan, ada harapan, dan ada dorongan untuk melawan nasib dengan cara yang justru membawa petaka. Dari situ, cerita berkembang menjadi pertarungan antara keinginan manusia dan konsekuensi dari pilihan yang diambil.

Produksi Berat di Pedalaman Kalimantan

Di balik cerita yang sarat misteri, proses produksi film ini juga tidak mudah. Lokasi syuting yang berada di pedalaman Kalimantan membuat sebagian besar latar harus dibangun dari nol. Tantangan ini menuntut tim produksi untuk bekerja lebih detail agar suasana yang dihadirkan tetap meyakinkan dan sesuai dengan kebutuhan cerita.

Untuk menguatkan tampilan visual, tim CGI dari LMN Studio turut dilibatkan. Hasil pengerjaan mereka disebut berhasil memberikan efek yang kemudian meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia. Kehadiran unsur visual tersebut menjadi pelengkap penting bagi film yang mengandalkan atmosfer mencekam dan nuansa lokal yang kuat.

Selain Rio Dewanto, Kuyank juga dibintangi Putri Intan Kasela, Ochi Rosdiana, dan Barry Prima. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Januari 2026, membawa kombinasi antara kisah horor, konflik keluarga, dan kekayaan budaya Kalimantan ke layar lebar.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.