Krisis Ganda Digital dan Iklim: Anak Indonesia dalam Bahaya

by -37 Views

Anak-anak Indonesia semakin memasuki ruang digital dalam kehidupan mereka, tetapi juga dihadapkan pada tekanan serius terhadap kesehatan mental dan perlindungan. Sementara itu, krisis iklim yang semakin nyata juga berdampak pada aspek kehidupan mulai dari pangan, pendidikan, hingga keamanan. Temuan ini diungkapkan dalam diskusi media awal Tahun 2026 oleh Save The Children pada 14 Januari 2026.

Studi Save The Children Indonesia tahun 2025 tentang Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak menemukan bahwa hampir 40% anak usia SMP menghabiskan 3-6 jam per hari di depan gawai, dengan penggunaan paling tinggi pada jam 18.00-21.00. Perempuan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di layar dibandingkan anak laki-laki. Hasil studi tersebut mengonfirmasi bahwa dunia digital telah menjadi ruang utama bagi anak-anak, bahkan ketika penggunaan ponsel dilarang di sekolah, mereka tetap berusaha untuk mengakses gawai selama jam pelajaran.

Selain itu, studi juga menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital tidak selalu berdampak positif pada kesejahteraan mental anak. Semakin tinggi tingkat kecanduan digital, semakin buruk kondisi kesehatan mental anak. Anak-anak memahami risiko-risiko di ruang digital seperti penipuan, peretasan, pencurian, dan perundungan siber, tapi sayangnya, kesadaran ini tidak diimbangi dengan keterampilan untuk merespons secara aman dan sehat.

Save the Children Indonesia mendorong pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi untuk menghadapi situasi yang dihadapi anak-anak saat ini. Tantangan seperti peningkatan keamanan digital, literasi adaptasi krisis iklim, dan pemenuhan hak anak dalam tahapan pemulihan pascabencana di beberapa daerah menjadi prioritas mendesak. Mereka juga menegaskan pentingnya investasi dalam kesejahteraan anak-anak agar mereka dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Source link