Festival Film Indonesia (FFI) 2025 sukses digelar pada 20 November 2025, disusul oleh Festival Filem Malaysia (FFM) ke-34 dilaksanakan pada Sabtu (1/11). Sebuah perbandingan terjadi antara kualitas industri perfilman kedua negara tetangga tersebut, mulai dari visual panggung, permainan kamera, hingga gaya berpakaian tamu yang mengangkat budaya lokal. Seorang warganet Malaysia menyuarakan pendapatnya melalui unggahan di akun @iqluqes, yang menyoroti bagaimana Indonesia dianggap lebih unggul dalam produksi film, musik, dan pertunjukan daripada Malaysia. Ia memuji FFI 2025 dengan visual apik, set memikat, kamera berkualitas tinggi, dan gaya busana elegan para tamu. Penghargaan untuk FFI 2025 juga diberikan atas pengangkatan budaya lokal lewat tema acara dan busana para tamu, yang membuatnya berbeda dengan FFM ke-34.
Pendapat negatif tentang FFM ke-34 juga muncul dari warganet Malaysia yang menyoroti rendahnya kualitas poster promosi acara tersebut. Dibandingkan dengan ajang penghargaan film dunia lainnya seperti Oscar dan VMA, poster FFM terlihat kurang kreatif dan ‘kuno’. Seorang penulis di situs Astro Awani juga menyoroti ketertinggalan industri film Malaysia dalam memilih film yang mengangkat isu-isu kontroversial. Menurutnya, dewan juri FFM ke-34 cenderung memilih film dengan standar konvensional, seperti teknis rapi, narasi mudah dicerna, dan tema yang aman, sehingga film yang lebih berani dan relevan secara sosial dianggap lemah.
Pemilik unggahan tersebut juga memberikan pujian kepada Indonesia, yang dinilai mampu menghasilkan film ‘berani’ seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) dan Autobiography (2022). Ia menilai bahwa Malaysia perlu mengadopsi keberanian estetik dalam penilaian film agar bisa menghasilkan karya yang lebih ‘penting’. Di akhir, ia menekankan pentingnya reformasi dalam FFM agar tidak hanya fokus pada penilaian tetapi juga membangun wacana sinema nasional yang lebih terbuka dan progresif, di mana kejujuran dan keberanian film dihargai lebih dari sekadar kekemasan.





