Sejarah dan Fakta Menarik Tugu Pahlawan Surabaya: Mengenal Ikon Pertempuran 10 November

by -24 Views

Tugu Pahlawan merupakan monumen perjuangan utama di Kota Surabaya yang dibangun untuk mengenang keberanian rakyat dalam Pertempuran 10 November 1945. Berdiri di kawasan bekas gedung kolonial Raad van Justitie yang hancur akibat pertempuran, monumen ini menjadi simbol perlawanan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejak diresmikan pada 10 November 1952, Tugu Pahlawan tidak hanya menjadi ikon Kota Surabaya, tetapi juga pusat kegiatan peringatan Hari Pahlawan setiap tahun. Monumen ini menyimpan beragam fakta sejarah, arsitektur simbolik, serta koleksi museum bawah tanah yang mendokumentasikan rekam jejak perjuangan rakyat Surabaya pada masa awal kemerdekaan.

Sejarah pembangunan Tugu Pahlawan dimulai pada 20 Februari 1952 dan selesai pada 3 Juni 1952. Proses pembangunan dilakukan dengan pengerjaan pondasi sedalam tujuh meter, penguatan struktur menggunakan sekitar 19 ton besi, serta pengecoran beton untuk keseluruhan menara. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 10 November 1952, tepat tujuh tahun setelah peristiwa heroik 10 November 1945. Lokasi tugu dipilih di bekas gedung kolonial Raad van Justitie, yang hancur saat terjadi pertempuran besar antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu. Perancangan arsitektur Tugu Pahlawan diputuskan melalui sayembara, dengan Ir. R. Soeratmoko ditetapkan sebagai pemenang.

Tugu Pahlawan bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga memiliki detail arsitektur dan sejarah yang menarik. Tinggi Tugu Pahlawan adalah 45 meter, namun karena berbagai kendala akhirnya tinggi yang disepakati adalah 41,15 meter. Angka tersebut tetap melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia (1945) dan dikelilingi patung-patung pahlawan nasional yang ikut berjuang dalam pertempuran atau berkontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia, seperti Gubernur Suryo dan Mayjen Sungkono. Di sekitar area monumen, terdapat patung-patung pahlawan nasional yang ikut berjuang dalam pertempuran atau berkontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia. Beberapa bagian dari Tugu Pahlawan kabarnya dibangun menggunakan material bekas puing-puing bangunan yang hancur akibat pertempuran, memberikan makna mendalam bahwa monumen ini benar-benar lahir dari “abu” pertempuran. Biaya pembangunan tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga dari sumbangan masyarakat dan dermawan. Setiap tahunnya, pada 10 November, ribuan orang berkumpul di sini untuk mengikuti upacara dan mengenang semangat perjuangan yang tak kenal menyerah.

Source link