Max Verstappen kembali menunjukkan kekuatannya dalam dua balapan terakhir di Italia dan Azerbaijan, mengumpulkan 35 poin dan mendekati pemimpin klasemen Oscar Piastri. Namun, apakah McLaren benar-benar menjadi ancaman serius dalam perebutan gelar juara, ataukah kemenangan Verstappen hanyalah hasil dari situasi balapan yang menguntungkan?
Data menunjukkan bahwa McLaren tidak selalu memiliki mobil tercepat, terutama di Monza dan Baku, namun selisih waktu lapangan tidak terlalu besar. Meskipun Lando Norris terlihat lebih lambat dari Verstappen secara rata-rata, hal ini bisa disebabkan oleh situasi balapan yang tidak menguntungkan baginya. Dalam kondisi yang lebih baik, Norris mampu menunjukkan kecepatan yang sebenarnya.
Kualifikasi menjadi kunci penting dalam kemenangan, seperti yang terjadi di Baku. Norris melakukan kesalahan fatal yang menghambat posisinya di grid, meskipun potensi performanya sebenarnya cukup baik. Kesalahan Norris memberikan peluang bagi lawan untuk mendekati, meskipun data menunjukkan bahwa McLaren sebenarnya memiliki potensi yang lebih baik.
Perbedaan karakteristik lintasan Monza dan Baku membuat McLaren harus bekerja lebih keras. Meskipun mobil McLaren didesain untuk downforce maksimum, kecepatan tertinggi menjadi kekurangan mereka di sirkuit-sirkuit ini. Strategi buruk yang diterapkan McLaren di Azerbaijan juga menunjukkan bahwa mereka harus lebih memperhatikan faktor lain selain downforce.
Meskipun Red Bull mengalami kemajuan, McLaren masih mendominasi di beberapa lintasan tertentu seperti Singapura. Sirkuit dengan karakteristik berbeda seperti Austin, Brasil, dan Qatar mungkin akan menjadi ajang balas dendam bagi McLaren. Meski begitu, persaingan masih berlanjut dan harapan terhadap gelar juara masih terbuka lebar.





