Heir to Bandung Non-Aligned Spirit: Brazil’s President on BRICS

by -211 Views

Rio de Janeiro — Di tengah kembali menguatnya rivalitas geopolitik dan rapuhnya kerja sama global, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva memilih mengangkat satu rujukan sejarah yang sarat makna: Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Dalam pembukaan KTT BRICS ke-17, Lula menegaskan bahwa BRICS bukan sekadar forum ekonomi negara-negara berkembang, melainkan kelanjutan dari semangat non-blok yang dahulu menolak dunia dibagi-bagi oleh kekuatan besar.

Pernyataan itu disampaikan Lula dalam sesi pertama pertemuan puncak BRICS yang digelar di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, pada Minggu, 6 Juli. Di hadapan para kepala negara dan pemerintahan anggota BRICS, ia menyebut blok tersebut sebagai cerminan langsung dari warisan Bandung, konferensi bersejarah yang melahirkan gagasan kemandirian politik negara-negara Asia dan Afrika pada masa Perang Dingin.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto turut hadir dalam forum itu, menandai keikutsertaan perdana Indonesia sebagai anggota penuh BRICS. Kehadiran Indonesia memberi bobot simbolik tersendiri pada pidato Lula, sebab negara itu merupakan salah satu pewaris langsung semangat Bandung yang disebutnya sebagai sumber inspirasi BRICS hari ini.

Bandung, Non-Blok, dan BRICS dalam Satu Napas

Lula tidak berbicara dalam bahasa diplomasi yang datar. Ia justru menempatkan BRICS dalam garis sejarah yang tegas. “BRICS adalah manifestasi Gerakan Non-Blok Bandung. BRICS membawa semangat Bandung,” ujarnya di hadapan para pemimpin yang hadir. Dengan kalimat itu, Lula berupaya menegaskan bahwa BRICS bukan aliansi yang lahir untuk meniru blok kekuatan lama, melainkan forum yang berdiri di atas penolakan terhadap dominasi satu atau dua pusat kekuasaan dunia.

Ia kemudian mengingatkan bahwa sepuluh tahun setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri, Konferensi Bandung hadir untuk menolak pembelahan dunia menjadi wilayah pengaruh. Dalam pandangannya, gagasan multipolaritas yang diusung Bandung tetap relevan ketika banyak negara masih merasa ruang geraknya dibatasi oleh ketimpangan kekuatan global.

Lula juga mengaitkan BRICS dengan sejarah pendirian PBB. Menurut dia, banyak anggota BRICS saat ini termasuk di antara penandatangan awal Piagam PBB. Hubungan historis itu, kata Lula, menunjukkan bahwa negara-negara yang kini berkumpul dalam BRICS punya akar panjang dalam upaya membangun tata dunia yang lebih adil, bukan sekadar kepentingan sesaat.

Dalam kerangka itu, BRICS diposisikan Lula sebagai “pewaris Gerakan Non-Blok”. Ungkapan tersebut menjadi inti dari pesan politik yang ingin ia sampaikan: bahwa blok ini membawa mandat moral untuk memperjuangkan dunia yang tidak dikendalikan oleh satu poros, tetapi dibangun dari keseimbangan dan penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara.

Peringatan Lula soal Runtuhnya Multilateralisme

Selain menyoroti warisan Bandung, Lula juga menggunakan podium BRICS untuk mengirim peringatan keras mengenai kondisi multilateralisme dunia. Ia menyebut sistem kerja sama internasional sedang menghadapi krisis yang luar biasa. Pada 26 Juni, kata dia, PBB genap berusia 80 tahun, tetapi dunia justru menyaksikan kemunduran multilateralisme dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pernyataan itu memperlihatkan nada keprihatinan yang kuat. Bagi Lula, pendirian PBB dulu merupakan simbol kekalahan fasisme dan harapan kolektif umat manusia setelah perang besar. Namun delapan dekade kemudian, harapan tersebut dinilai menghadapi tekanan berat dari konflik, polarisasi, dan kecenderungan sejumlah negara untuk mengabaikan mekanisme multilateral.

Lula tidak merinci satu per satu sumber kemunduran itu, tetapi pesan utamanya jelas: lembaga-lembaga internasional yang seharusnya menjadi ruang penyelesaian bersama kini dipandang semakin kehilangan daya. Dalam situasi seperti itu, BRICS menurutnya harus tampil lebih dari sekadar forum diskusi. Blok ini dituntut menjadi kekuatan yang ikut menjaga agar prinsip kerja sama internasional tidak benar-benar terkikis.

Pidato Lula juga terasa sebagai ajakan untuk membaca ulang posisi negara-negara berkembang dalam tata dunia. Dengan menempatkan BRICS dalam garis sejarah Bandung, ia seolah mengingatkan bahwa negara-negara Selatan Global tidak harus menerima struktur dunia apa adanya. Mereka, menurut logika yang ia bangun, punya ruang untuk merumuskan agenda sendiri, termasuk dalam isu politik, ekonomi, dan tata kelola global.

Indonesia Masuk Panggung Penuh BRICS

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Rio de Janeiro menjadi salah satu sorotan penting KTT kali ini. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS sejak 1 Januari 2025, dan forum di MAM ini menjadi kesempatan pertama bagi Jakarta untuk hadir sebagai anggota penuh dalam pertemuan puncak kelompok tersebut.

Masuknya Indonesia ke BRICS menambah dimensi baru pada perdebatan tentang arah blok ini. Sebagai negara dengan tradisi politik luar negeri yang menekankan kebebasan dan kemandirian, Indonesia membawa beban simbolik sekaligus ekspektasi diplomatik yang besar. Dalam konteks itulah, pidato Lula tentang Bandung terasa sangat relevan, karena Indonesia adalah salah satu negara yang paling sering dikaitkan dengan warisan konferensi bersejarah tersebut.

KTT BRICS ke-17 sendiri menjadi ruang bagi para pemimpin anggota untuk membahas berbagai tantangan yang mendesak. Agenda yang mengemuka mencakup konflik berkepanjangan di sejumlah wilayah, reformasi lembaga tata kelola global, serta upaya memperkuat kerja sama multilateral di tengah situasi dunia yang makin terfragmentasi.

Selain isu politik dan keamanan, para pemimpin juga diperkirakan membahas persoalan ekonomi dan keuangan yang mendesak. Di luar itu, BRICS juga diarahkan untuk melihat peluang kerja sama di bidang-bidang baru, seperti tata kelola kecerdasan buatan, aksi iklim dan perlindungan lingkungan, serta kesehatan global. Dengan cakupan pembahasan yang luas, forum ini menunjukkan ambisi BRICS untuk tidak berhenti pada isu perdagangan atau investasi semata.

Namun di balik agenda teknis tersebut, pidato Lula memberi warna yang lebih mendalam. Ia menempatkan BRICS bukan hanya sebagai forum koordinasi, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap ketimpangan sistem internasional. Dengan menyebut Bandung dan Gerakan Non-Blok, Lula membawa BRICS kembali ke akar ideologis yang menolak dominasi, menolak pembelahan dunia, dan menuntut ruang yang lebih setara bagi negara-negara berkembang.

Di saat banyak forum internasional dinilai kehilangan daya dorong, pernyataan Lula di Rio menegaskan satu hal: BRICS ingin dipandang bukan sebagai pengganti tatanan lama, melainkan sebagai pewaris gagasan bahwa dunia seharusnya tidak dikuasai oleh segelintir kekuatan saja. Dan dari podium di Brasil, semangat itu kembali diucapkan dengan lugas, tanpa basa-basi.