Ngertakeun Bumi Lamba 2025 di Gunung Tangkuban Parahu: Saat Bumi Dipeluk dengan Doa dan Tindakan

by -409 Views
Ngertakeun Bumi Lamba 2025 di Gunung Tangkuban Parahu: Saat Bumi Dipeluk dengan Doa dan Tindakan

Pagi di lereng Gunung Tangkuban Parahu, Sabtu, 22 Juni 2025, terasa seperti halaman panjang dari sebuah doa kolektif. Kabut masih menggantung rendah, udara menusuk kulit, dan ribuan orang datang dengan langkah pelan namun pasti. Mereka tidak sekadar berkumpul untuk menghadiri sebuah seremoni adat. Mereka datang membawa satu perkara yang jauh lebih besar: kesediaan untuk mengingat bahwa bumi bukan milik manusia semata, melainkan titipan yang harus dijaga bersama.

Di tengah lanskap gunung yang dingin dan sunyi, warna-warna adat dari berbagai penjuru Nusantara justru membuat suasana terasa hidup. Batik Sunda berdampingan dengan busana Dayak, selendang Bali menyatu dengan hiasan kepala Minahasa. Semua hadir tanpa saling menegaskan batas, justru memperlihatkan satu pesan yang sama: keberagaman bisa berdiri dalam satu napas ketika tujuannya adalah merawat kehidupan.

Di situlah Ngertakeun Bumi Lamba digelar, sebuah upacara adat Sunda yang tidak hanya memanggil ingatan pada leluhur, tetapi juga menagih tanggung jawab generasi sekarang. Tradisi ini kembali menjadi ruang pertemuan antara adat, spiritualitas, dan kesadaran ekologis. Di tengah krisis lingkungan yang terus membayangi, ritual seperti ini terasa lebih dari sekadar simbol. Ia menjadi pengingat keras bahwa hubungan manusia dengan alam tidak pernah bisa diperlakukan sebagai urusan sampingan.

Ngertakeun Bumi Lamba: Tradisi Lama, Relevansi yang Tak Pernah Padam

Dalam bahasa Sunda, ngertakeun berarti memelihara, merawat, dan memuliakan. Sementara bumi lamba merujuk pada bumi yang luas, semesta tempat manusia hidup bersama makhluk lain. Dua kata itu, bila digabungkan, tidak sekadar membentuk nama upacara. Keduanya menyimpan ajakan moral yang sangat jelas: manusia wajib menjaga kehidupan, bukan menguasainya.

Tradisi ini dipercaya sudah hadir sejak masa kerajaan Sunda kuno. Pada 1964, R.M.H. Eyang Kanduruan Kartawinata menghidupkannya kembali di gunung yang sama. Sejak saat itu, Ngertakeun Bumi Lamba terus bertahan sebagai ruang perjumpaan lintas budaya dan lintas generasi. Bukan tanpa alasan tradisi ini kembali mendapat perhatian. Di saat banyak orang membicarakan alam sebatas sumber daya, upacara ini justru mengembalikan alam pada martabatnya sebagai rumah bersama.

Yang membuat ritual ini kuat bukan hanya pada simbol-simbolnya, melainkan pada suasana batin yang dibangunnya. Ketika prosesi dimulai, suara karinding terdengar lirih, seperti bisikan dari masa lalu yang masih ingin didengar. Nada itu kemudian bertemu dengan angklung, genta Bali, dan tabuhan Minahasa. Perpaduan bunyi tersebut tidak terasa seperti pertunjukan biasa. Ia lebih mirip percakapan panjang antara manusia, alam, dan leluhur—percakapan yang tidak bisa dipahami jika hati masih tertutup oleh hiruk-pikuk sehari-hari.

Suara dari Berbagai Penjuru, Pesan yang Mengarah ke Hal yang Sama

Upacara ini juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan para pemimpin adat yang membawa pesan dengan bobot masing-masing, namun berujung pada satu garis yang serupa: bumi harus diperlakukan dengan hormat. Bapak Wiratno menegaskan bahwa budaya sejati adalah kemampuan menyerahkan bumi kepada generasi yang belum lahir dalam keadaan lebih baik. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak tekanannya. Ia mengingatkan bahwa warisan terbaik bukan hanya tanah, bangunan, atau nama besar, melainkan kualitas kehidupan yang masih bisa dinikmati anak cucu.

Andy Utama menyampaikan peringatan yang tajam: jangan pernah berhitung dengan semesta, karena bila semesta mulai berhitung dengan manusia, justru manusia yang akan rugi. Ucapan itu menjadi semacam tamparan halus bagi mereka yang selama ini merasa bisa mengambil dari alam tanpa batas. Dalam konteks hari ini, pernyataan tersebut terasa sangat relevan karena kerusakan lingkungan kerap bermula dari kesombongan kecil: keyakinan bahwa alam selalu mampu menanggung semua beban manusia.

Mayjen Rido menyebut ritual ini sebagai “pengadilan batin” bagi setiap manusia. Istilah itu memberi sudut pandang lain tentang upacara adat. Ia bukan hanya perayaan, tetapi juga ruang evaluasi diri. Di hadapan gunung, kabut, dan doa yang dipanjatkan bersama, manusia dipaksa melihat kembali sikapnya sendiri terhadap alam. Apakah selama ini ia merawat, atau justru menguras?

Dari sisi adat, Panglima Dayak mengucapkan pengingat yang sangat lugas: alam tidak membutuhkan manusia, justru manusialah yang bergantung pada alam. Kalimat ini membalik cara pandang yang selama ini sering dipakai manusia modern. Kita sering merasa sebagai pusat, padahal dalam kenyataan, hidup kita disangga oleh sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih besar daripada sekadar ambisi manusia.

Sementara itu, Panglima Minahasa menegaskan bahwa gunung adalah penjaga masa depan. Di tempat seperti inilah, katanya, Bhinneka Tunggal Ika menjadi nyata dan Pancasila hadir bukan sebagai slogan, melainkan sebagai pengalaman hidup. Seruannya, “Merdeka!”, menutup pesan itu dengan nada yang tidak hanya patriotik, tetapi juga ekologis. Kemerdekaan, dalam konteks ini, bukan cuma bebas dari penjajahan politik, tetapi juga bebas dari keserakahan yang merusak hubungan manusia dengan alam.

Dari Doa ke Aksi: Menjaga Bumi Tidak Berhenti di Lereng Gunung

Yang membuat Ngertakeun Bumi Lamba terasa berbeda dari sekadar upacara adat adalah kenyataan bahwa semangatnya tidak berhenti di tempat prosesi berlangsung. Ada jembatan yang jelas antara doa dan tindakan. Di luar ritual, Komunitas Arista Montana bersama Yayasan Paseban telah menanam lebih dari 15.000 pohon di kawasan Megamendung dan Gunung Gede-Pangrango. Jenis pohon yang ditanam mencakup puspa, damar, bambu, dan beragam tanaman hutan lain yang menjadi bagian penting dari ekosistem.

Angka itu bukan sekadar data untuk dipamerkan. Ia menjadi bukti bahwa pernyataan tentang cinta bumi tidak dibiarkan menggantung di udara. Dalam banyak perbincangan lingkungan, manusia sering berhenti pada kampanye dan slogan. Namun di sini, yang ditawarkan adalah kerja nyata, pelan, dan berulang. Menanam pohon berarti menerima bahwa pemulihan alam tidak bisa diselesaikan dalam satu hari, satu pidato, atau satu pertemuan. Ia menuntut kesabaran, konsistensi, dan kesediaan untuk bekerja tanpa sorotan berlebihan.

Pilihan menanam puspa, damar, bambu, dan tanaman hutan lain juga menunjukkan bahwa menjaga alam tidak bisa dilakukan dengan pendekatan serampangan. Ada kesadaran bahwa ekosistem perlu dipulihkan dengan jenis tanaman yang memiliki peran masing-masing. Di sinilah ritual adat bertemu dengan aksi konservasi. Keduanya saling mengisi: yang satu meneguhkan nilai, yang lain membuktikan nilai itu dalam tindakan.

Semangat itu terasa semakin kuat ketika upacara mendekati akhir. Panglima Dayak memimpin pekikan “Taariu! Taariu! Taariu!” Seruan itu memecah udara dingin di lereng gunung dan menyatukan orang-orang yang hadir dalam satu getaran yang sama. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti penutup ritual. Namun bagi mereka yang hadir, pekikan tersebut lebih menyerupai sumpah: bahwa bumi tidak boleh dibiarkan rusak tanpa perlawanan, bahwa leluhur tidak boleh dikhianati, dan bahwa manusia tidak boleh lupa pada asal-usulnya sendiri.

Saat orang-orang mulai meninggalkan lokasi, yang mereka bawa pulang bukan hanya kenangan tentang upacara adat yang khidmat. Mereka membawa amanah yang lebih berat: merawat bumi adalah pekerjaan sehari-hari, bukan acara seremonial. Gunung, hutan, dan tanah tidak akan selamat hanya karena dipuji. Mereka selamat ketika manusia benar-benar belajar memeluknya dengan hormat, lalu membuktikannya lewat tindakan yang konsisten.