Warner Bros. Games memulai tahun fiskal 2025 dengan kabar yang jauh dari menggembirakan. Setelah serangkaian keputusan pahit pada akhir 2024, divisi game raksasa hiburan ini justru mencatat penurunan pendapatan yang sangat tajam pada kuartal pertama. Angkanya bukan sekadar turun tipis, melainkan anjlok hingga hampir setengah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di balik laporan keuangan tersebut, terlihat jelas bagaimana absennya rilis besar, penutupan studio, dan kegagalan game live service meninggalkan jejak yang berat.
Situasi ini menjadi sorotan karena Warner Bros. Games sebelumnya sempat dipandang sebagai salah satu unit bisnis yang punya potensi kuat berkat kekuatan IP besar milik perusahaan. Namun, awal 2025 justru memperlihatkan sisi lain: ketika tidak ada peluncuran game baru yang mampu menggerakkan pasar, dan produk sebelumnya tidak lagi cukup menopang performa, pendapatan langsung merosot dalam skala besar.
Penurunan tajam setelah akhir 2024 yang kacau
Laporan keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2025 menunjukkan bahwa pendapatan Warner Bros. Games turun 48% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi refleksi langsung dari kondisi yang sudah memburuk sejak akhir 2024, ketika perusahaan mengambil langkah drastis dengan menutup beberapa studio game dan menghentikan dukungan terhadap sejumlah proyek live service.
Dua nama yang paling banyak disorot dalam periode itu adalah Suicide Squad: Kill the Justice League dan MultiVersus. Keduanya berada di jalur yang sama-sama bermasalah sebagai game live service. Harapan besar yang semula disematkan pada model bisnis berkelanjutan itu tidak terwujud, justru berujung pada kerugian finansial yang besar dan efek berantai ke internal perusahaan. Penutupan proyek dan pemutusan hubungan kerja terhadap banyak developer menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Di sisi bisnis, kondisi ini menunjukkan bahwa Warner Bros. Games sedang berada dalam fase koreksi yang keras. Tidak ada ruang untuk menyembunyikan dampak dari keputusan strategis yang gagal. Ketika dua proyek utama tidak mampu bertahan, beban keuangan perusahaan langsung terasa dalam laporan kuartalan berikutnya.
Hogwarts Legacy masih membantu, tapi tidak cukup menahan keruntuhan
Di tengah penurunan yang besar itu, Warner Bros. masih memperoleh keuntungan dari Hogwarts Legacy, salah satu game tersukses mereka dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kontribusi positif dari game tersebut ternyata tidak cukup kuat untuk menutup kerugian yang ditinggalkan oleh Suicide Squad.
Ini menjadi poin penting dalam membaca kondisi divisi gaming Warner Bros. Satu produk sukses memang bisa memberi napas panjang, tetapi tidak selalu mampu menambal kegagalan proyek lain yang menguras biaya sangat besar. Dalam kasus ini, performa Hogwarts Legacy lebih terlihat sebagai penyangga sementara ketimbang penyelamat penuh. Pendapatan yang dihasilkan masih kalah besar dibandingkan lubang finansial yang muncul dari proyek live service yang gagal memenuhi ekspektasi.
Dengan kata lain, Warner Bros. Games masih memiliki aset yang bernilai tinggi, tetapi struktur bisnisnya belum cukup stabil untuk bergantung pada satu atau dua judul besar saja. Ketika pipeline rilis baru tidak berjalan, keberhasilan game lama pun hanya mampu menahan kejatuhan untuk sementara waktu.
Pengeluaran turun, tetapi masa depan divisi game tetap tanda tanya
Meski pendapatan menurun drastis, ada satu sisi yang dianggap positif oleh tim di divisi gaming Warner Bros.: pengeluaran ikut berkurang karena tidak ada pengembangan game baru dalam periode tersebut. Dari sudut pandang akuntansi, ini bisa membantu menahan kerugian agar tidak semakin melebar. Namun, penghematan semacam ini tidak otomatis berarti kondisi perusahaan membaik.
Justru, absennya pengembangan baru dapat dibaca sebagai tanda bahwa Warner Bros. Games sedang berada dalam mode bertahan, bukan tumbuh. Ketika biaya operasional turun karena aktivitas produksi menipis, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal arah jangka panjang. Divisi ini masih ingin serius di industri game, atau perlahan mulai mengerem ambisinya setelah rangkaian kegagalan yang mahal?
Itulah sebabnya laporan keuangan ini memunculkan spekulasi yang lebih besar dari sekadar angka pendapatan kuartalan. Warner Bros. Games kini berada di persimpangan yang sulit. Mereka masih memiliki katalog IP yang kuat, tetapi kepercayaan pasar terhadap strategi gaming mereka jelas sedang diuji. Setelah menutup studio, membatalkan proyek, dan menanggung dampak dari game live service yang gagal, perusahaan perlu menunjukkan bahwa mereka masih punya rencana yang masuk akal untuk bangkit.
Untuk saat ini, yang terlihat justru adalah gambaran divisi yang sedang menata ulang langkah setelah terpukul cukup keras. Kuartal pertama 2025 bukan hanya tentang pendapatan yang jatuh 48 persen, melainkan juga tentang sinyal bahwa Warner Bros. Games belum menemukan titik stabil setelah rangkaian keputusan besar di penghujung tahun lalu. Di tengah kondisi seperti ini, pertanyaan apakah Warner Bros. pada akhirnya akan mengurangi keterlibatan di industri game dan lebih fokus ke bisnis perfilman belum punya jawaban pasti, tetapi jelas kini menjadi pembahasan yang semakin sulit dihindari.





