Pendekatan NBS: PASEBAN Wujudkan Keseimbangan Alam dan Layanan Ekosistem

by -306 Views

Di tengah tekanan perubahan iklim, rusaknya lahan, dan menurunnya keanekaragaman hayati, semakin banyak pihak yang mencari cara baru untuk menjaga alam tanpa memutus hubungan dengan kebutuhan manusia. Salah satu pendekatan yang mulai mendapat sorotan adalah Nature-Based Solutions atau NBS, yakni cara kerja yang menempatkan pemulihan ekosistem sebagai inti dari solusi. Di Mega Mendung, Jawa Barat, pendekatan ini dijalankan PASEBAN bukan sekadar sebagai program lingkungan, melainkan sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus memastikan manfaatnya tetap dirasakan masyarakat.

PASEBAN hadir dengan gagasan bahwa alam tidak cukup hanya dilindungi dari jauh. Ia perlu dipulihkan, dikelola, dan dijaga lewat kerja nyata yang berkelanjutan. Dari sana, konsep layanan ekosistem menjadi landasan penting: hutan dipulihkan, tanah dijaga, air dikelola, dan ruang hidup bagi berbagai spesies dipertahankan. Dalam konteks Indonesia yang kaya biodiversitas, pendekatan semacam ini dinilai makin relevan karena tantangan lingkungan tidak lagi bisa dihadapi dengan cara-cara parsial.

NBS sebagai cara baru membaca hubungan manusia dan alam

Nature-Based Solutions atau NBS pada dasarnya menawarkan sudut pandang berbeda. Jika banyak pendekatan lingkungan hanya berfokus pada perlindungan atau pembatasan, NBS menekankan pemulihan sistem alam agar kembali bekerja secara optimal. Artinya, ekosistem bukan dipandang sebagai objek yang diamankan, melainkan sebagai sistem hidup yang harus dipulihkan fungsinya agar mampu memberi manfaat bagi manusia.

Dalam pandangan PASEBAN, pendekatan ini bukan pilihan idealis semata. Ia justru menjadi jawaban atas masalah yang semakin nyata: perubahan iklim yang mengganggu pola cuaca, lahan yang makin terdegradasi, serta habitat yang terus menyempit. Kang Dony, perwakilan PASEBAN, menegaskan bahwa NBS penting untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus menyiapkan keberlanjutan bagi generasi berikutnya. Menurutnya, pelestarian alam di Indonesia membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, swasta, hingga individu yang berada di sekitar kawasan konservasi.

Pernyataan itu memperlihatkan satu hal penting: krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan lewat satu pintu. NBS menuntut kerja bersama, karena ekosistem yang sehat hanya bisa dibangun jika setiap unsur di dalamnya ikut terjaga.

PASEBAN dan layanan ekosistem yang dijaga dari akar

Fokus PASEBAN tidak berhenti pada penanaman pohon atau kampanye hijau. Program yang dijalankan diarahkan pada layanan ekosistem alami atau Ecosystem Services, yakni manfaat langsung maupun tidak langsung yang diberikan alam kepada manusia. Di antaranya reforestasi, konservasi keanekaragaman hayati, dan pertanian organik. Ketiganya saling terkait dan membentuk sistem yang lebih utuh ketimbang program lingkungan yang berdiri sendiri-sendiri.

Kang Dony menjelaskan bahwa layanan ekosistem tersebut bertujuan menjaga kesehatan tanah, mengelola retensi air, dan mendukung proses penyerbukan alami. Tiga hal ini sering kali luput dari perhatian publik, padahal justru menjadi dasar dari produktivitas alam. Tanah yang sehat menentukan kualitas tanaman. Air yang tersimpan baik menjaga keseimbangan musim kering dan basah. Sementara penyerbukan alami menjadi penopang penting bagi keberlanjutan flora dan hasil pertanian.

Di lapangan, pendekatan seperti ini menuntut kesabaran. Pemulihan ekosistem tidak menghasilkan dampak instan, tetapi efeknya jauh lebih panjang. Karena itu, PASEBAN memilih kerja yang menyentuh akar persoalan. Reforestasi tidak hanya untuk menghijaukan area, melainkan mengembalikan fungsi ekologis. Pertanian organik tidak hanya untuk menghasilkan pangan, tetapi juga untuk menjaga tanah tetap hidup. Konservasi keanekaragaman hayati tidak semata melindungi spesies, tetapi memastikan rantai kehidupan tetap utuh.

Visi tersebut berakar dari Arista Montana Organic Farm, lahan pertanian organik yang didirikan Andy Utama pada 2010. Dari sana, gagasan tentang pemeliharaan alam berkembang lebih luas. Jika awalnya perhatian diarahkan pada lahan pertanian dan masyarakat sekitar, kini cakupannya menjelma menjadi komitmen yang lebih besar melalui PASEBAN. Perkembangan itu menunjukkan bahwa praktik pertanian dan pelestarian lingkungan tidak harus berjalan terpisah. Keduanya justru bisa saling menguatkan bila dikelola dengan visi yang sama.

Kolaborasi, data biodiversitas, dan ruang belajar bersama

Salah satu langkah yang menonjol dari PASEBAN adalah pengelolaan lebih dari 162,5 hektare lahan hutan di Mega Mendung melalui kemitraan dengan PT Perhutani. Area ini tidak hanya dipandang sebagai ruang konservasi, tetapi juga sebagai tempat untuk menerapkan model agroforestri, yakni sistem yang menggabungkan pertanian dan kehutanan dalam satu lanskap. Model ini membantu penyerapan karbon, menekan emisi, dan pada saat yang sama mendukung ketahanan pangan serta produktivitas tanah.

Agroforestri menjadi penting karena menawarkan pendekatan yang lebih realistis di wilayah yang harus menjaga fungsi hutan sekaligus memberi nilai manfaat bagi masyarakat. Dengan menggabungkan pohon, tanaman, dan pengelolaan lahan yang lebih bijak, sistem ini menciptakan keseimbangan antara produksi dan perlindungan. Dalam praktik PASEBAN, keseimbangan itu tampak sebagai upaya menjaga hutan tetap hidup tanpa menutup peluang bagi keberlanjutan ekonomi dan sosial di sekitarnya.

Untuk memastikan perlindungan keanekaragaman hayati berjalan berbasis data, PASEBAN juga bekerja sama dengan peneliti dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Kolaborasi ini digunakan untuk mendata berbagai spesies lokal beserta habitatnya. Pendataan semacam ini sangat penting karena konservasi tidak cukup hanya dengan niat baik; ia membutuhkan pemahaman yang akurat tentang apa saja yang hidup di suatu kawasan, bagaimana relasinya, dan ancaman apa yang dihadapinya.

Langkah tersebut juga membuka ruang bagi PASEBAN untuk berperan sebagai pusat penelitian dan pembelajaran keberlanjutan. Bukan hanya tempat aksi lapangan, tetapi juga ruang bertukar pengetahuan bagi akademisi dan pihak-pihak yang ingin memahami lebih jauh tentang ekosistem tangguh dan pelestarian biodiversitas. Di titik inilah PASEBAN tampak menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai pengelola kawasan, melainkan sebagai simpul pembelajaran yang menghubungkan praktik, riset, dan komunitas.

Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal menjadi unsur yang tidak dipisahkan dari program-program PASEBAN. Perempuan, pemuda, dan kelompok rentan ikut dilibatkan dalam upaya pelestarian, karena keberlanjutan tidak akan kokoh jika masyarakat sekitar hanya menjadi penonton. Partisipasi mereka justru menjadi penentu apakah program lingkungan bisa berjalan panjang atau berhenti di tengah jalan. Dalam pendekatan seperti ini, masyarakat bukan objek penerima manfaat, melainkan bagian dari proses sejak awal.

Dengan pola kerja seperti itu, PASEBAN menunjukkan bahwa keseimbangan alam tidak lahir dari satu tindakan besar, melainkan dari rangkaian langkah yang saling menguatkan: pemulihan hutan, pengelolaan lahan yang bijak, pencatatan biodiversitas, penguatan komunitas, dan pembelajaran yang terus berjalan. Di Mega Mendung, pendekatan NBS tidak hanya menjadi jargon, tetapi dipraktikkan sebagai cara merawat wilayah agar tetap produktif tanpa kehilangan daya dukung ekologisnya.

Di tengah banyaknya program lingkungan yang berhenti pada seremonial, PASEBAN justru menempatkan kerja kolaboratif sebagai inti. Pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat lokal dipandang perlu duduk dalam satu arah yang sama: menjaga ekosistem tetap sehat sambil memastikan kehidupan sosial di sekitarnya tidak tertinggal. Dari sana, pendekatan berbasis alam ini bergerak bukan hanya untuk memulihkan lanskap, tetapi juga untuk membangun cara pandang baru bahwa keberlanjutan harus tumbuh bersama manusia yang hidup di dalamnya.